Music Tour 2014, Jejak Suara Suvarnadvipa – Pekanbaru [3 End ]

Tradisi ketiga yang ada di repertoire Suara Jiwa adalah maratok/meratap. Tradisi ini juga dianggap tabu di daerah asalnya, karena berisikan umpatan dan rintihan dari seseorang ketika ditinggal pergi atau ditinggal mati oleh orang yang ia cintai. Maratok tidak bisa dihentikan begitu saja oleh orang yang didengarnya. Orang yang sedang maratok akan merasa lemas karena energi yang dikeluarkan begitu besar, bahkan tidak sedikit pula yang pingsan karenanya. Di repertoire Suara Jiwa, Giring berhasil memainkan emosi penonton hingga semuanya hanyut dalam emosinya masing-masing.

Vokal Giring yang sukses memainkan emosi jiwa penonton dengan sastra lisan Nondong, Batimang dan Maratok ini juga terjadi saat IPAM 2013 lalu. Ia berhasil membuat banyak ekspatriat menangis karena hal ini. Luar biasa! 🙂

Setelah repertoire Suara Jiwa selesai, bang Rino kembali menyapa penonton yang hadir untuk menetralkan suasana. Ia juga memperkenalkan 8 orang personil Riau Rhythm Chambers Indonesia. Ada Cendra Putra Yanis dan Rizki Habibullah di cello, Viogy Rupiyanto sebagai pemain biola yang juga merangkap vokalis, Violano Rupiyanto di gambus, Fitrah ‘Giring’ di perkusi dan vokal, Bayu Ceisar di accordion dan perkusi, Aristofani di flute, dan Rino Dezapati sebagai founder dan composer yang juga bermain calempong.

DSC05648Dalam mengemas konser Jejak Suara Suvarnadvipa ini, Riau Rhythm Chambers Indonesia terjun langsung untuk observasi ke Candi Muara Takus, bertemu dengan budayawan dan seniman sastra lisan di sana. Kenapa Candi Mura Takus? Karena Suvarnadvipa diduga berpusat di titik 0 km, yang tepat berada di Candi Muara Takus. 🙂

Next, repertoire kelima berjudul Si Bono. Mengisahkan tentang Bono yang kini terkenal sebagai tempat surfing paling unik dan menantang oleh surfer dari seluruh dunia. Bono adalah ombak atau gelombang yang terjadi di muara sungai Kampar, kabupaten Pelalawan. Ombak ini terjadi karena fenomena alam di mana terjadi pertemuan antara arus sungai menuju air laut. Sebelum ombak besar ini datang, ada suara menderu yang sangat menyeramkan sebagai tanda akan datangnya si Bono. Suara deru ombak inilah yang kemudian menginspirasi Riau Rhythm membuat repertoire kelima dengan tempo yang cepat yang membuat penonton ikut menghentakkan kaki dan bergoyang.

DSC05651Repertoire selanjutnya berjudul Lukah Gile yang berisikan mantra permainan agar lukah (perangkap arwah) bergerak sendiri yang biasa dimainkan di kehidupan pesisir Suvarnadvipa. Di repertoire ini, Giring kembali menunjukkan aksinya membaca mantra permianan. Suasana magis kembali terasa di ruang pertunjukkan Anjung Seni Idrus Tintin Pekanbaru.

Hmm, serem ya? Well, don’t worry guys, karena untuk persiapan konser Jejak Suara Suvarnadvipa ini, teman-teman Riau Rhythm Chambers Indonesia sudah ‘meminta izin’ terlebih dahulu pada ahli waris di Candi Muara Takus. Mereka sudah menjelaskan tujuan utama konser ini yang semata-mata ingin melestarikan dan memperkenalkan seni tradisi Riau kepada khalayak ramai.

DSC05636Dua repertoire terakhir, yaitu repertoire ketujuh dan kedelapan, juga terinspirasi dari kehidupan masyarakat di Riau pesisir. Berjudul Pecalang Laut Embun dan 3D (Dentang Denting Dentum). Pecalang Laut Embun adalah kapal yang mengarungi laut embun dengan gagah perkasa. Sedangkan 3D atau Dentang Denting Dentum terinspirasi dari kebiasaan masyarakat pesisir yang senang bercakap-cakap (bercerita) usai pulang melaut. Kedua repertoire ini disajikan dengan balunan tempo yang cepat seolah mengajak penonton juga ikut bergoyang sambil menghentakkan kaki dan bertepuk-tepuk tangan.

Sebagai penutup konser Jejak Suara Suvarnadvipa, di repertoire Dentang Denting Dentum ada aksi unjuk kebolehan permainan gambus yang luar biasa keren dari trio Gambus Riau Rhythm Chambers Indonesia: Rino Dezapati, Viogy Rupiyanto dan Violano Rupiyanto. Permainan gambus ini berhasil menghipnotis penonton dan membuat penonton takjub dengan alunan irama ngebeat yang luarrrr biasa keren! *applause*

DSC05658

Secara keseluruhan konser Jejak Suara Suvarnadvipa di Pekanbaru ini dikemas dengan sangat baik. Penonton tidak hanya diajak mendengarkan alunan nada dan irama dari ke-8 repertoire yang dimainkan oleh Riau Rhythm Chambers Indonesia. Tetapi juga diajak untuk mengenal lebih jauh tentang sejarah seni di Riau. Video hasil wawancara dengan Pak Salman, salah seorang budayawan Kampar, sangat membantu dalam memperkenalkan seni tradisi sastra lisan Kampar kepada masyarakat.

Walau tidak banyak ‘atraksi’ yang ditampilkan di atas panggung, Riau Rhythm Chambers Indonesia tetap berhasil menyedot perhatian penonton pada kemampuan bermusik mereka yang luar biasa. Semua personilnya sangat bertalenta dan benar-benar menaruh perhatian khusus pada musik tradisi Riau. Luar biasa!

Bravo, Riau Rhythm Chambers Indonesia! Bravo!

All of you are awesomeeeee! 🙂

DSC05662P.S. Info lebih lanjut mengenai rangkaian konser Jejak Suara Suvarnadvipa sile cek TL @riaurhythm dan @pekanwak 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s