Kolaborasi Darat dan Pesisir – Spesial – IPAM 2013

‘’Saya sampai berlinang air mata saat mendengarkan syair botimang, walaupun saya sendiri tidak paham bahasa Melayu Kampar. Saya merinding dibuatnya, mungkin karena karya musik Riau Rhythm Chambers bermain pada wilayah rasa, bukan atraksi nada,’’ ungkap Ayu Ambong, salah seorang penikmat yang menyaksikan aksi grup musik asal Riau.

20140113-011758.jpgRIAU Rhythm Chambers Indonesia (RRCI) sendiri hanyalah satu dari puluhan grup yang mengisi acara bergengsi bertajuk Indonesian Performing Arts Market (IPAM), 13-17 November di Jakarta. Meski bagian dari puluhan penampilan seni dari seluruh Indonesia, grup musik yang diasuh Rino Dezapaty Mby memberi warna tersendiri. Tak heran jika mereka mendapat sambutan apresiator serta para direktur event international yang memadati gedung Teater Salihara, Sabtu (16/11) lalu.Di helat itu, Rino dan kawan-kawan membawakan karya-karya yang dikemas dalam tema ‘’Song From Rural’’. Karya yang dibawakan karya musik komposisi berjudul ‘’Hoyak Tacobuar’’, ‘’Nandung Si Anak Talang’’, ‘’Dentang, Denting, Dentum’’ serta ‘’Lukah Gile’’. Dan keempat karya itu sebagai gambaran dari kekayaan khazanah Melayu Riau. Sebuah kawasan yang tumbuh dan berkembang dalam kebudayaan empat sungai besar Riau yakni Sungai Kampar, Rokan, Siak dan Indragiri.‘’Saya benar-benar suka karya grup Riau Rhythm karena cukup meyakinkan. Karya pertama dan kedua membuat saya merinding. Namun di karya ketiga, mereka justru bermain-main dalam gurauan yang menggelitik. Saya jadi tersenyum-senyum sendiri mendengar serta melihat aksi para musisinya, terutama tiga pemusik yang memainkan gambus. Di karya penutup saya kembali dibawa untuk merasakan alam Melayu yang jarang saya dengar dan lihat,’’ papar penikmat musik, Ayu Ambong yang belakangan diketahui seorang jurnalis media massa terkemuka di Indonesia.Helat yang dilaksanakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Republik Indonesia (RI) itu, diazamkan sebagai ajang promosi kesenian Indonesia ke level internasional. Grup-grup yang tampil juga melewati seleksi yang ketat dari para kurator yang berkompeten di bidangnya. Bahkan sepanjang pelaksanaan IPAM, baru dua grup seni asal Riau yang lolos seleksi yakni PLT Laksemana (tari) 2005 dan Riau Rhythm Chambers Indonesia (musik) 2013.

IPAM 2013 yang keenam ini diselenggarakan di tiga lokasi berbeda seperti Komunitas Salihara (sebagai kantong kesenian kontemporer di Jakarta Selatan), Taman Ismail Marzuki (pusat kesenian Kota Jakarta), dan RedWhite Lounge (klub jazz di Kemang milik Indra Lesmana, musikus jazz). Hanya saja, IPAM tahun ini lebih diutamakan untuk seni musik dan tari, sedang seni pertunjukan lain seperti teater hanya meloloskan sedikit grup saja dengan alasan keterbatasan memahami bahasa. Sebab helat itu memang untuk disaksikan para direktur event internasional yang akan menjaring, grup-grup yang layak diboyong ke negara mereka seperti Amerika, Australia, Jepang, Singapura dan negara lainnya.

‘’Saya pikir, penampilan Riau Rhythm di helat selevel IPAM memantik kembali spirit musisi Riau. Apalagi selama ini, di Riau minim sekali konser musik komposisi yang berangkat kekayaan lokal. Para musisi banyak larut dalam ke-asyik-an menjadi musisi pengiring tari,’’ Manager Produksi Riau Rhythm Chambers Indonesia Hari Sandra Hasan.

Menurutnya, Malay Music Institut (MMI) berupaya untuk mengakomodir para musisi untuk menggelar karyanya di helat-helat nasional, salah satunya IPAM. MMI merasa penampilan Riau Rhythm Chambers di helat itu cukup memuaskan dan membanggakan karena mendapat respon yang tinggi dari Singapura dan para direktur event internasional. Bahkan seorang dari mereka, usai penampilan Riau Rhythm menjelaskan kepada publik bahwa budaya, Melayu Riau begitu kaya. Bahkan Riau adalah penyumbang budaya paling berjasa bagi Indonesia yakni bahasa Indonesia itu sendiri.

‘’Sepertinya si bule itu memahami budaya Melayu Riau dan Indonesia secara umum dan menurutnya jeritan hutan yang disebut nondong Kampar seperti jeritan orang Irian. Dia menyukai betul karya Rino dan kawan-kawan,’’ jelas Hari Sandra Hasan.

Karya Andalan
Komposer Riau Rhythm Chambers Indonesia Rino Dezapaty Mby mengulas, keempat karya yang mereka tampilkan di IPAM 2013 menjadi karya andalan. Karya-karya itu dicipta lewat proses yang cukup panjang, berkisar delapan bulan. Diangkat dari kekayaan lokal Melayu Riau yang tak habis-habisnya untuk terus digali, baik Riau daratan maupun Riau pesisir dan jika disimak dan dinikmati maka karya-karya Rino kali ini cukup berbeda dari biasanya. Karya itu, secara fisik mengutamakan kekayaan darat dengan rasa pesisir. Sebuah kolaborasi yang patut diacungi jempol.

‘’Saya menggabungkan berbagai unsur bunyi dari kekayaan Riau, baik kekayaan Riau daratan maupun pesisir. Banyak juga yang bilang karya-karya ini, kaya dengan bunyi-bunyi Melayu Riau daratan tapi rasanya begitu pesisir,’’ ulas Rino.

Dijelaskannya, karya pertama yakni ‘’Nandung Si Talang’’ dicipta dari unsur bunyi bermotif atau berpola perkusi Talang (salah satu kakayaan suku anak dalam di Indragiri Hulu yakni Talang Mamak) yang repeatitive dengan instrument gong, kotuk-kotuk (ketuk-ketuk), calempong dan suling. Lau gabungan sastra lisan nandung Melayu di Indragiri Hulu. Konsep yang ditawarkan kepada audiens adalah eksotisme irama suling dan pola perkusi primitif.

Karya kedua ‘’Botimang Anak’’ dari unsur vocal syair botimang, nondong Kampar, gondang oguang Kampar, gendang panjang, calempong Kampar di mixed dengan motif biola Randai Kuantan. Kekuatan syair botimang diambil dari awal observasi ke Kabupaten Kampar Kanan, Kampar Kiri dan Kuansing.

Lalu karya ketiga ‘’Dentang, Denting, Dentum’’ menonjolkan unsur gambus Riau dimainkan tiga musisi bermotif non perkusi. Kekayaan pola petikan gambus dan mengexplore pola perkusi marwas yang lebih dikenal dengan pola ritmis pukulan 1, 2 dan 3 serta santing marwas (aksentuasi pada pukulan marwas) di mainkan dengan gambus, suling, dan celo. ‘’Dentang, Denting, Dentum’’ menonjolkan konsep-konsep gambus diawali dengan konsep rushing (terburu-buru) dan di pertengahan bermain gambus bertiga dengan pola ‘Ad lib’ (Ad Libitium) atau memainkan musik secara bebas.

Sementara itu, karya penutup ‘’Lukah Gile’’ menonjolkan unsur vokal yakni kekuatan mantera lukah gile yang di mainkan dalam konsep-konsep poly meter yang berbeda dan dimainkan dengan tujuh instrument berbeda (gambus, biola, celo, akordion, suling, calempong dan gendang panjang).

Nada-nada yang dimainkan terdiri dari nada original yang menjadi tawaran awal, hingga eksplorasi accelerando, di akhir karya. Rhythm Struktur musik yang berhubungan dengan ketukan tempo dan ketukan yang asli dari pola rhythm Riau.

‘’Konsep empat sungai yang saling berhubungan menjadi pijakan karya ini. Consanance dalam irama musik tradisi di wilayah rural dan diuraikan dalam konsep counterpoint yang intens dalam bahagian karya etchno contempo. Ya karya ini merupakan kolaborasi kekayaan darat dan pesisir,’’ ujar Rino.

Licia Sucipto yakni Programme Officer Esplanade Theatres Singapore dan Rydwan Anwar yakni Asociate Producer Esplanade Theatres Singapore mengaku terharu saat syair-syair dinyanyikan. ‘’Kami ingin membuat program musik ini di Singapura dan Riau Rhythm Chambers Etchno Contempo mau mengirimkan karyanya untuk dibuatkan program khusus di Esplanade,’’ ucap mereka.

Begitu pula Sherrie Johnson, Independent Producer Canada yang memberikan apresiasi. Dia bahkan meminta discography untuk segera dikirimkan  ke 33 delegate festival dunia sembilan negara yang ikut menonton pertunjukan Riau Rhythm Chambers berdurasi 50 menit di gedung Teater Salihara, Jakarta Selatan.

IPAM 2013 ini menampilkan nama-nama seniman dan grup terbaik dari hasil seleksi yang dilakukan para kurator berpengalaman. Di ranah tari, misalnya, tampil Nan Jombang, Mugi Dance, kelompok penari Istana Mangkunegaran Surakarta, dan koreografer Hartati, Fitri Setyaningsih serta Eko Supriyanto. Dari teater, tampil Teater Garasi dan Papermoon Theater yang mempresentasikan kiprahnya, bersanding dengan presentasi sutradara Garin Nugroho atas Opera Jawa, serta Ki Slamet Gundono dan Komunitas Wayang Suket. Di musik tampil Dewa Budjana, Endah N Rhesa, konser musik Rafly, konser Kua Etnika, Sinten Remen, Ubiet dan Dian HP, Eyuser (Papua) dan Riau Rhythm Chambers Indonesia.***

Penulis  : FEDLI AZIS, Jakarta
Original Source : Riau Pos

Event : IPAM 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s