Catatan kecil Parade Tari Daerah Nasional Taman Mini

33 provinsi mempunyai bermacam suku & ratusan bahkan ribuan kesenian yg ada, tidak lah itu mungkin utk di pertandingkan, namun yg menjadi kriteria agar bisa merujuk kepada penilaian ialah berdasarkan dari tekhnik, kepenarian, dramaturki, tema, kostum & property, musik dan sebagainya (berhubungan dengan panggung dan pengkaryaan). Karya yg baik dgn tekhnik yg baik, harus diamati oleh kalangan yg terbaik dibidang nya dgn cerdas dan up to date.

Saya melihat ini sebuah kegagalan dalam berproses, kemunduran hari, bulan bahkan tahun. Dimana pelaku hingga pengkarya-pengkarya dahulu kala yg saat ini menjadi juru amat (pengamat) yg akhir nya juru(san) amat(iran) menghasilkan suguhan panggung amatiran, keinginan sang juru amat hingga karya-karya klasik lah yg bermunculan.

Tidaklah arif apabila seluruh karya klasik (originalitas daerah) itu diperlombakan, karena masing-masing provinsi daerah mempunyai keunikan yg berbeda-beda bahkan tidak bisa ternilai dalam bentuk angka, hingga menurunkan kualitas keseluruhan karya karya koreografer muda dan yg sarat pengalaman terbaik saat ini.

Keadaan telah berbanding terbalik di masa-masa zaman mereka blm mengenal tekhnik dan seni pertunjukan saat ini. Sehingga berita klasik pun sudah beredar dimana-mana “asal ada uang, piala setinggi 2 meter-an itu menjadi milik provinsi kita”
Menurut saya bisa iya dan cenderung tidak. Karena utk juara umum saja, provinsi hanya mendapatkan 10 juta perak dan piala tinggi dgn harga 2 juta perak “ya itu dahulu juga.. di mana zaman pengamat masih muda berkarya, 32 tahun yg lalu”.

Sementara utk seluruh provinsi paling minim menggelontorkan dana utk membawa team kesenian 50 hingga 450 juta (ironis sekali), Kalaulah mesti membayar 40 hingga 75 juta agar bisa menang itu bisa dipastikan kerugian yg besar dan tidak pun dapat balik modal. Gengsi yg dibawa dari event ini pun juga sudah tidak ada lagi, krn bisa kita taksir bahwa sebuah event bisa menjadi bergengsi apabila di lihat dari “siapa penyelenggaranya, siapa kurator nya, siapa pengamat nya dan dimana acara nya”

Namun utk 3 tahun belakangan ini atmosfer itu memang benar-benar menjadi terbelakang, bahkan sampai-sampai karya-karya terbelakang berubah haluan ‘moving forward’ maju kedepan.10 pengkarya terbaik yg masuk nominasi penilaian 33 pengamat dari daerah perwakilan setiap provinsi, diserahkan kepada ya itu tadi juru(…) amat(…) “yang katanya kelas nasional itu dan bahayanya lagu “bisa berubah 180• derjad berubah dalam sim salabim..” Mungkin akan lebih baik mengubah suai menjadi parade sulap nasional. Hehehe…

Tapi sudahlah, catatan kecil ini semoga bisa di baca pengkarya-pengkarya yg innovative agar hendak nya selalu berkarya dalam ruang dan korelasi penggalian budaya yg hampir hilang dengan kolektifitas gerak dan bunyi. Sehingga dapat memunculkan kembali muatan-muatan lokal yg mulai tenggelam akibat nahkoda yg kurang lah paham..

Catatan ini juga saya kutip dari hasil diskusi bersama 5 pengamat daerah ‘jawa timur, bali, jawa tengah, riau dan sumatera utara – Aristofani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s